Halaman

Jumat, 13 November 2020

Kembali Menjadi Narasumber di Kelas Menulis Online bersama Omjay

Ahad, 8 November 2020
Ada pesan masuk dari Omjay :
Yth Bu Ditta
Mohon kesediannya menjadi narsum kembali hari senen
(09.35 WIB)

Namun, karena pada hari itu saya sedang ikut ziarah ke Cirebon, hampir seharian saya tidak mengecek WA. Pesan Omjay baru saya buka esok paginya.

"Senin skg Omjay?" Tanya saya pada Omjay untuk memastikan.

"Iya nanti malam di gel 16", jawab Omjay.

Saya tak langsung menjawab. Hari Senin, 9 November 2020, saya harus melaksanakan PPL dalam program PPG dan langsung membuat laporan untuk diunggah pada hari tersebut. 

Namun, hati saya tak bisa menolak permintaan Omjay. Biar bagaimana pun, melalui Omjay, saya bisa bertumbuh dan berkembang lebih baik terutama dalam dunia kepenulisan. Beliau adalah guru yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri.

Maka, diawali dengan bismillah dalam hati, saya menyatakan siap.


1 jam sebelum belajar
Seperti biasa, pelatihan akan dimulai pukul 19.00 WIB. Beberapa konsep materi sudah ada di dalam otak. Tapi, saya harus menuangkannya dalam bentuk tulisan terlebih dahulu. Membuat peta konsepnya agar berjalan runut.

Usai menyelesaikan editing video praktik PPL, di satu jam sebelum pembelajaran mulai, saya mengebut untuk menuangkan semua konsep yang ada. Hehe, mungkin karena saya seorang guru ya jadi apa-apa harus ditulis dulu layaknya membuat RPP sebelum melakukan proses pembelajaran.

Selain ngebut, saya masih harus membagi waktu dengan anak saya yang masih berusia 11 bulan. Setelah magrib adalah jadwal Fatih tidur. Jadi, saya pun harus stand by menemani.

Ternyata ...
Saat menengok grup Gelombang 16 dimana saya akan bergabung sebagai narasumber, ternyata sudah mulai ramai sejak flyer narasumber dibagikan.

Namun, yang membuat saya kaget adalah kabar bahwa ternyata Omjay sedang sakit. Hal itu dibenarkan oleh Bu Kanjeng yang menjadi moderator membersamai saya.

Omjay ...
Saya masih ingat ketika dulu Omjay pernah pingsan dan dirawat namun tetap mengayomi kami bahkan membuat tulisan di saat sakit! Membuktikan bahwa menulis bisa dilakukan dalam kondisi apa pun.

Sekarang, Omjay yang sedang tidak fit, ternyata masih saja memikirkan nasib kami para peserta. Bagaimana agar perkuliahan tetap jalan dengan menghadirkan narasumber.

Omjay, engkaulah salah satu guru sejati yang sungguh menginspirasi. Kembali, Ditta ucapkan beribu terima kasih karena telah memberi kesempatan kedua kalinya untuk menjadi narasumber di kelas menulis bersama Omjay dkk.

Tak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang tergabung dalam kelas menulis bersama Omjay dkk. Terima kasih pula kepada yang telah meluangkan waktunya untuk membuat resume materi dari manusia biasa ini.

Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan untuk dapat terus berkarya dan berbagi. 

Salam Guru Blogger,
Salam Literasi.

Jumat, 06 November 2020

Sehari Tak Buka Laptop

Sehari nggak buka laptop pada saat PPG itu ternyata ... #aneh! Hehe. Mungkin karena terbiasa menyeleskan tugas dsb sehingga setiap hari harus buka laptop. Akhirnya ketika tidak buka laptop sama sekali menjadi terasa janggal.

Seperti hari ini. Hingga pukul 22.39, saya belum membuka laptop. Bukan karena tak ada tugas. Tapi, karena memang tugas sudah selesai lebih awal dan sudah diunggah kemarin malam.

Rasanya benar-benar aneh! Mungkin setelah ini saya akan kembali membuka laptop. Sekedar mengetik rancangan tugas berikutnya barangkali. Atau sekedar menyalakan lalu mematikan kembali. Hehe ...

Rabu, 04 November 2020

Senangnya Tuh Di Sini

Senin, 2 Nov 2020, seharusnya setiap mahasiswa PPG Daljab 2020 melakukan praktik mengajar untuk PPL 1. Tapi saya tidak bisa. Pada hari tersebut, saya sebagai wali kelas 7, harus mendampingi peserta didik untuk sesi pemotretan.

Selain itu, memang sebelumnya setelah berkoordinasi dengan guru IPA kelas 9A dan wali kelas 9A, praktik PPL akan dilaksanakan pada hari Selasa, 3 Nov 2020 karena pada tanggal tersebut saya pun harus disupervisi (biar sekalian).

Saat melihat panduan, jadwal unggah video praktik PPL (karena PPG kali ini full daring) adalah hari Selasa. Karena itu, saya pikir bisa melakukan PPL di hari Selasa. Mengingat pada saat orientasi (penyamaan persepsi) tentang PPL, saya pernah bertanya terkait jadwal dan ternyata boleh disesuaikan.

Namun, izin tersebut tentu bukan berarti kita harus abai saat melaksanakan tugas. Maka, saya pun berusaha usai melaksanakan kewajiban sebagai wali kelas untuk mengondisikan peserta didik kelas 9.

Saya komunikasikan ulang pada guru pendamping (observer) bahwa saya akan coba praktik hari Senin. Lalu, saya pun mulai mencoba mengondisikan.

RPP yang saya buat sifatnya daring yang terdiri dari kegiatan sinkron dan asinkron. Pada kegiatan sinkron, sebenarnya peserta didik sudah bisa masuk platform meeting room online. Namun, qodarullah saat itu saya mengalami kendala tidak bisa share screen dan setelah melihat rekaman video praktik mengajar, ternyata suara tak terekam.

Saya coba kembali bagian sinkron hanya dengan video call biasa, tetap suara tidak terekam. Pembelajaran harus berlanjut ke asinkron. Maka saya coba komunikasi. Namun seperti terdampar di hutan belantara sendirian, ruang chat begitu sepi hingga saya pun merasa sedang melakukan monolog.

Saya benar-benar tidak tahu apakah mereka mengerjakan atau tidak. Tapi, mungkin karena memang bukan jadwal PJJ IPA, jadi belum ada respon.

Akhirnya, praktik PPL pun tetap saya laksanakan pada hari Selasa. Hasilnya sudah lebih baik karena saya gunakan platform meeting online yang berbeda. Suara saya juga terekam. Alhamdulillah.

Sedih Tak Dianggap
Saya berusaha mengejar ketertinggalan. Usai praktik mengajar, saya gabungkan video sinkron dan asinkron untuk kemudian diunggah ke YouTube dan dikirimkan ke link (ternyata ini menjadi tagihan hari Senin).

Selasa malam, webmeeting antara mahasiswa dosen dan guru pamong membahas video yang telah dikirim linknya. Dan sedihnya tuh di sini. Nama saya tak disebut. Satu-satunya yang tidak dibahas dari 9 orang yang atau kelompok. Padahal siang tadi usai dzuhur saya langsung mengirim link di LMS.

Namun, saya pun sadar. Dosen dan guru pamong tentu memiliki kesibukan. Mungkin mereka belum sempat melihat kiriman saya yang 'telat' itu. Saya masih bisa belajar dari masukan masukan terhadap video teman-teman.

Merasa tidak nyaman dan tidak tenang, saya pun menghubungi admin, memaparkan apa yang sebenarnya terjadi. Dan memohon maaf.

Saya bisa menjadi lebih tenang saat admin menjelaskan bahwa nama saya tidak disebut mungkin karena memang belum dilihat. Jadi, datanya melihat yang hari sebelumnya telah mengirimkan. Saat itu saya sudah pasrah berapa pun nilai yang akan saya dapat.

Senangnya Tuh Di Sini
Di WA Grup ada kabar hari ini (Rabu, 4 Nov 2020) video praktik pembelajaran telah dinilai untuk PPL 1. Saya cek di bagian grade, benar saja sudah dinilai. Eh, ternyata nilainya sudah baik. Saya dapat 90. Alhamdulillah.

Karena sempat ada yang menanyakan siapa yang memberi nilai, maka saya pun akhirnya membuka di bagian penugasan. Betapa bahagianya saya ketika melihat ternyata yang menilai adalah dosen saya! Pak Dr. Mohammad Wijaya.

Membaca feedback dari beliau, saya sungguh terharu 😭 ternyata saya tak dilupakan, hanya memang belum sempat dilihat saja videonya jadi tak disebut saat wm.

Minggu, 01 November 2020

Tips (untuk) Lupa Waktu

Pernah kaget saat melihat jam ternyata sudah siang padahal rasanya masih pagi? Atau melihat tanggal ternyata sudah tanggal tua? 😁😁😁

Lupa waktu memang identik dengan hal-hal yang kurang baik. Terlalu banyak main, terlalu banyak begadang, terlalu banyak nonton, dll sampai-sampai lupa waktu nggak makan, lupa waktu sama keluarga bahkan yang lebih parah, lupa waktu untuk beribadah. Astaghfirullah.

Tapi, terkadang lupa waktu memang dibutuhkan. Saat kita harus fokus mengerjakan tugas misalnya. Saat mengerjakan malam hari dan kita melihat waktu (jam), mungkin tubuh kita akan sadar sudah saatnya beristirahat. Kalau sudah begini, pekerjaan mungkin tidak akan selesai.

Lalu, bagaimana caranya agar sesekali bisa lupa waktu? Jawabannya sederhana. Dengan tidak memerhatikan waktu itu sendiri. Alias tidak usah melirik jam. Cukup setel alarm tanda pengumpulan tugas atau untuk ibadah dan makan. Selebihnya biarkan waktu berjalan dengan sendirinya.

Tips ini mungkin juga berguna saat kita sedang dalam posisi "menunggu". Bukankah menunggu itu terkadang menjemukan? Terlebih jika tiap saat kita melihat jam. Waktu rasanya berjalan lambaaaaaattttt sekali. Maka, tipsnya adalah ya jangan lihat waktu 😁

Saya tidak sarankan untuk terus lupa waktu loh ya. Hehe. Tiap kita harus tau kapan waktunya kita ingat dan kapan sebaiknya kita lupa.

Saat kita ingin ingat waktu, maka lihatlah waktu. Saat kita ingin lupa, maka abaikan sejenak sang waktu.

Mau pilih yang manapun, kuncinya tetap sama. Gunakan untuk kebaikan. Ibarat pisau yang bisa berguna atau tidak, bukan tergantung pisaunya, tapi tergantung pada siapa yang menggunakannya.

Semoga kita tetap jadi sebaik-baik insan. Karena setiap waktu yang kita lalui, tak akan pernah kembali walau hanya sepersekian detik.

Jumat, 30 Oktober 2020

Saatnya Meliburkan Diri

Cuti bersama tanggal 28 dan 30 Oktober kali ini tak seperti biasanya. Kamis, 29 Oktober yang merupakan libur nasional Maulid Nabi Saw plus dua hari libur yang mengapitnya membuat perkuliahan PPG pun dijeda.

Tapi, seolah sudah menjadi bayangan yang selalu mengikuti, tugas dll yang berkaitan dengan PPG selalu menghantui. Jangankan berlibur, diam saja isi otak selalu dipenuhi dengan PPG.

Di hari pertama libur, saya sibuk mempersiapkan portofolio. Uji kinerja PPG Daljab 2020 kali ini harus menyertakan portofolio dua tahun terakhir. Alhamdulillah, telah tergantikan takdir. Dua tahun ini saya memang mengikuti beberapa Diklat, seminar/webinar bahkan menerbitkan buku. Jadi, insya Allah tidak akan kalap.

Di hari kedua libur, saya sibuk mencermati kembali perangkat pembelajaran (RPP, Bahan Ajar, Media, LKPD dan Evaluasi) serta proposal PTK yang akan digunakan saat PPL. Seperti umumnya proses editing. Revisi perangkat pun memakan waktu yang tidak sebentar. Semakin dicermati, semakin banyak yang direvisi seolah akan menjadi revisi tidak berujung. Maka satu-satunya jalan adalah dengan berhenti merevisi. Hehe ...

Di hari ketiga, setelah selesai menscan beberapa sertifikat, saya memutuskan untuk meliburkan diri. Sejenak rehat dari segala aktivitas PPG. Bermain dengan Fatih (anak saya). Berbelanja online. Mengunjungi blog teman dan lain sebagainya.

Yap. Otak dan badan pun perlu beristirahat sejenak. Merasakan hal-hal baru untuk sekedar refresh, menyegarkan kembali. Toh, manusia itu bukan robot, kan? Setiap kita harus tau batasan diri. Jangan sampai target yang terlalu besar membuat kita lupa diri.

Bismillah ... Besok akan dimulai kembali. Wahai segala aktivitas, saya sudah siap dengan energi dan semangat baru!

Sabtu, 17 Oktober 2020

Tips Membuat Video Praktik Pembelajaran

Halo Sahabat Ruang Inspirasi,
semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya!

Seneng syuting bikin video pembelajaran? Pernah nggak bikin video praktik pembelajaran yang ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan evaluasi dan peningkatan kualitas pembelajaran?

5 tahun tak mengajar kelas 9, dan kini harus bikin video praktik pembelajaran tentang Hukum Coulomb merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Terlebih membuatnya hanya dalam waktu 2 hari di masa pandemi. Coba deh simak video berikut :


Video Praktik Pembelajaran ini merupakan salah satu tugas yang saya buat saat mengikuti PPG Dalam Jabatan Angkatan 3 di Universitas Negeri Makassar Tahun 2020.

Sesuatu pokoknya bikin video ini karena dalam waktu 2 hari, kami harus sudah selesai membuat video praktik pembelajaran 😁 saya sempat bingung mencari siswa yang berkenan ikut berpartisipasi karena saat ini masih pandemi. Tapi syukurlah tetap ada yang berbaik hati membantu gurunya ini 🥰

Tips untuk yang mau membuat video praktik pembelajaran :
1. Siapkan skenario dan komunikasikan kepada siswa agar lebih terarah.
2. Siapkan berbagai teknik pengambilan video (mulai dari screen recorder, rekaman sendiri, hingga dibantu oleh orang lain)
3. Pastikan setiap langkah pembelajaran yang sudah tertulis di RPP terwakili dengan baik mulai dari pendahuluan, kegiatan inti hingga penutup (beri keterangan saat mengedit video, tuliskan juga model pembelajaran apa yang digunakan)
4. Perhatikan apa yang diminta, apakah berorientasi HOTS, TPaCK, daring/luring? munculkan!
5. Pastikan suara terdengar dengan baik, gambar terlihat jelas, serta tidak monoton.

Nah beberapa catatan penting lainnya adalah :
Tunjukkan (judul) materi apa yang akan disampaikan.
Tampilkan tujuan pembelajaran.
Jika dilakukan sinkron (tatap muka) dan asinkron (misalnya via WA/Google Classroom), tampilkan. Hee di video ini sesi diskusi asinkronnya tidak muncul ya 😁 (maafkan yang tak sempat mengedit lagi #padahal ada filenya)

Mmm ...
sepertinya cukup 😀

semoga bermanfaat 🤗

Kamis, 17 September 2020

Menanamkan Nilai Karakter di Masa Pandemi

Menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai karakter dalam diri peserta didik bukanlah hal yang mudah. Terlebih di masa pandemi seperti yang kita alami saat ini. Oleh karena itu, guru harus kreatif  dan inovatif dalam proses pembelajaran agar karakter siswa tetap terbentuk meski dilakukan dengan jarak jauh. 

Tangguh dalam belajar = berjuang
Dalam KBBI, kata tangguh dimaknai sebagai (1) sukar dikalahkan; kuat; andal; (2) kuat sekali (tentang pendirian dsb); tabah dan tahan (menderita dsb); kukuh. Memiliki sikap tangguh dalam belajar tentu merupakan hal penting bagi seorang pelajar terlebih di masa pandemi seperti saat ini. 

Sejak jumlah penderita corona kembali meningkat di Kabupaten Subang, komunikasi antara guru dan peserta didik sepenuhnya beralih ke dalam jaringan (daring). Memasuki pertengahan semester, tampaknya peserta didik di tempat penulis mengabdi sudah mulai mencapai titik jenuh. Jika di awal semester masih ada sekitar 50-75% siswa yang aktif dari total 32 siswa per kelas, kini jumlahnya bahkan tidak mencapai angka 10 orang per kelas. 

Jenuh. Itulah hipotesis awal saya terhadap kondisi anak-anak (baca: peserta didik) saat ini. Oleh karena itu, saya meminta kepada anak-anak untuk berani menuliskan kondisi dan perasaannya masing-masing dengan jujur selama belajar dari rumah. Sebanyak 30 orang siswa telah mengirimkan tulisan melalui chat pribadi pada 15-17 September 2020. Hasilnya, ternyata mereka memang sedang  mengalami kejenuhan. Mulanya banyak yang merasa senang namun pada akhirnya mereka pun mulai bosan.  

Beberapa alasan yang dikemukakan adalah karena pada pembelajaran daring, saat ada materi yang tidak mereka mengerti, mereka tidak bisa bertanya langsung kepada gurunya. Mereka memang masih bisa mencari jawaban dengan berselancar di internet, bertanya ke teman dengan chat, maupun bertanya kepada kakak atau orang tua. Tapi, mereka tetap lebih memilih untuk dapat bertatap muka langsung dengan gurunya. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa pun teknologi telah berkembang pesat, namun peran guru tetap tak tergantikan. 

Ketiga puluh orang siswa yang telah mengirimkan tulisan, sedikit banyak telah menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang tangguh dalam belajar. Saat ditanya mengapa mereka tetap sanggup belajar walau teman-teman yang lain banyak yang berguguran, ternyata jawabannya luar biasa. Sebagian mereka mengaku bahwa saat jenuh melanda, mereka mengingat kembali perjuangan orang tuanya untuk membeli kuota dan menyekolahkan. Ada yang kembali bangkit belajar dengan ingat cita-cita ingin menghajikan orang tua. Ada yang termotivasi karena ingin menjadi manusia yang lebih baik dari kedua orang tuanya, dsb. 

Seolah darah para pahlawan mengalir dalam tubuh mereka. Ketiga puluh anak tersebut mencerminkan sikap nasionalis dengan mewujudkan salah satu cita-cita para pahlawan kemerdekaan, yaitu semangat belajar untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah. 

Praktik Mandiri untuk Kemandirian Belajar
Tak hanya proses penilaian yang bergeser menjadi online, kegiatan praktikum pun harus direncanakan sedemikian rupa agar tetap dilaksanakan walau peserta didik di rumah saja. Menyiapkan lembar kerja peserta didik (LKPD) atau memberi arahan yang jelas telah menjadi salah satu faktor pendukung suksesnya praktik mandiri. 

Di pembelajaran IPA misalnya, saya pernah menugaskan peserta didik untuk melakukan pengukuran secara mandiri dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku. Feedback diberikan di forum diskusi dalam chat group. 

Integritas dan Religius
Orang cerdas itu banyak. Tapi belum tentu semua orang yang cerdas memiliki karakter yang baik. Saat ucapan sesuai dengan apa yang ada dipikiran dan perbuatan, maka dapat dikatakan orang yang melaksanakannya memiliki integritas. Disiplin sesuai jadwal pembelajaran jarak jauh dan bertanggung jawab menyelesaikan tugas bisa dijadikan indikator sederhana bahwa peserta didik maupun guru memiliki integritas. 

Mengawali kegiatan pembelajaran dengan doa dan saling mengingatkan jika sudah masuk waktu shalat adalah contoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menanamkan nilai religius. 

Bekerja sama
Bekerja sama merupakan salah satu keterampilan abad 21 yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Tabir yang menjadi batas antara ruang dan waktu sudah tidak ada. Peserta didik mampu belajar dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Berkolaborasi secara kreatif dan komunikatif.

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah


Nama : Ditta Widya Utami, S.Pd.
Email : dittawidyautami@gmail.com
Blog : https://dittawidyautami.blogspot.com
IG : @dittawidyautami
Youtube: ditta widya utami