Halaman

Kamis, 17 September 2020

Menanamkan Nilai Karakter di Masa Pandemi

Menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai karakter dalam diri peserta didik bukanlah hal yang mudah. Terlebih di masa pandemi seperti yang kita alami saat ini. Oleh karena itu, guru harus kreatif  dan inovatif dalam proses pembelajaran agar karakter siswa tetap terbentuk meski dilakukan dengan jarak jauh. 

Tangguh dalam belajar = berjuang
Dalam KBBI, kata tangguh dimaknai sebagai (1) sukar dikalahkan; kuat; andal; (2) kuat sekali (tentang pendirian dsb); tabah dan tahan (menderita dsb); kukuh. Memiliki sikap tangguh dalam belajar tentu merupakan hal penting bagi seorang pelajar terlebih di masa pandemi seperti saat ini. 

Sejak jumlah penderita corona kembali meningkat di Kabupaten Subang, komunikasi antara guru dan peserta didik sepenuhnya beralih ke dalam jaringan (daring). Memasuki pertengahan semester, tampaknya peserta didik di tempat penulis mengabdi sudah mulai mencapai titik jenuh. Jika di awal semester masih ada sekitar 50-75% siswa yang aktif dari total 32 siswa per kelas, kini jumlahnya bahkan tidak mencapai angka 10 orang per kelas. 

Jenuh. Itulah hipotesis awal saya terhadap kondisi anak-anak (baca: peserta didik) saat ini. Oleh karena itu, saya meminta kepada anak-anak untuk berani menuliskan kondisi dan perasaannya masing-masing dengan jujur selama belajar dari rumah. Sebanyak 30 orang siswa telah mengirimkan tulisan melalui chat pribadi pada 15-17 September 2020. Hasilnya, ternyata mereka memang sedang  mengalami kejenuhan. Mulanya banyak yang merasa senang namun pada akhirnya mereka pun mulai bosan.  

Beberapa alasan yang dikemukakan adalah karena pada pembelajaran daring, saat ada materi yang tidak mereka mengerti, mereka tidak bisa bertanya langsung kepada gurunya. Mereka memang masih bisa mencari jawaban dengan berselancar di internet, bertanya ke teman dengan chat, maupun bertanya kepada kakak atau orang tua. Tapi, mereka tetap lebih memilih untuk dapat bertatap muka langsung dengan gurunya. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa pun teknologi telah berkembang pesat, namun peran guru tetap tak tergantikan. 

Ketiga puluh orang siswa yang telah mengirimkan tulisan, sedikit banyak telah menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang tangguh dalam belajar. Saat ditanya mengapa mereka tetap sanggup belajar walau teman-teman yang lain banyak yang berguguran, ternyata jawabannya luar biasa. Sebagian mereka mengaku bahwa saat jenuh melanda, mereka mengingat kembali perjuangan orang tuanya untuk membeli kuota dan menyekolahkan. Ada yang kembali bangkit belajar dengan ingat cita-cita ingin menghajikan orang tua. Ada yang termotivasi karena ingin menjadi manusia yang lebih baik dari kedua orang tuanya, dsb. 

Seolah darah para pahlawan mengalir dalam tubuh mereka. Ketiga puluh anak tersebut mencerminkan sikap nasionalis dengan mewujudkan salah satu cita-cita para pahlawan kemerdekaan, yaitu semangat belajar untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah. 

Praktik Mandiri untuk Kemandirian Belajar
Tak hanya proses penilaian yang bergeser menjadi online, kegiatan praktikum pun harus direncanakan sedemikian rupa agar tetap dilaksanakan walau peserta didik di rumah saja. Menyiapkan lembar kerja peserta didik (LKPD) atau memberi arahan yang jelas telah menjadi salah satu faktor pendukung suksesnya praktik mandiri. 

Di pembelajaran IPA misalnya, saya pernah menugaskan peserta didik untuk melakukan pengukuran secara mandiri dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku. Feedback diberikan di forum diskusi dalam chat group. 

Integritas dan Religius
Orang cerdas itu banyak. Tapi belum tentu semua orang yang cerdas memiliki karakter yang baik. Saat ucapan sesuai dengan apa yang ada dipikiran dan perbuatan, maka dapat dikatakan orang yang melaksanakannya memiliki integritas. Disiplin sesuai jadwal pembelajaran jarak jauh dan bertanggung jawab menyelesaikan tugas bisa dijadikan indikator sederhana bahwa peserta didik maupun guru memiliki integritas. 

Mengawali kegiatan pembelajaran dengan doa dan saling mengingatkan jika sudah masuk waktu shalat adalah contoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menanamkan nilai religius. 

Bekerja sama
Bekerja sama merupakan salah satu keterampilan abad 21 yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Tabir yang menjadi batas antara ruang dan waktu sudah tidak ada. Peserta didik mampu belajar dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Berkolaborasi secara kreatif dan komunikatif.

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah


Nama : Ditta Widya Utami, S.Pd.
Email : dittawidyautami@gmail.com
Blog : https://dittawidyautami.blogspot.com
IG : @dittawidyautami
Youtube: ditta widya utami

Senin, 14 September 2020

Menulis untuk Menyegarkan Otak

Banyak sekali yang menjadi pikiran saya beberapa hari ini. Mulai dari pertanyaan dosen PPG di forum diskusi, benjolan di belakang telinga Fatih, hingga perilaku anak-anak SMP yang mulai tidak aktif belajar dari rumah.

Pertanyaan Dosen
Perkuliahan PPG sudah masuk ke modul profesional. Membahas materi IPA secara lebih mendalam. Jumat lalu, kami (peserta PPG) masuk ke Modul 2 IPA yang membahas sel, sistem organ dan kelangsungan hidup (hereditas dan teori evolusi).

Pertanyaan menantang disampaikan oleh dosen di forum diskusi seperti "Mengapa sudah tidak ada lagi organisme tingkat organ? Apakah masih ada organisme tingkat jaringan? Jika ya, apa contohnya?" atau "Mengapa sel berukuran sangat kecil?"

Semua orang mungkin tau bahwa (umumnya) sel berukuran sangat kecil. Tapi pertanyaan "mengapa" membuat saya berhenti sejenak. Berpikir. Mencari referensi. Membaca. Memahami. Hingga akhirnya membuat kesimpulan untuk disampaikan dalam forum diskusi.

Pertanyaan unik. Menarik. Membuat kami berpikir.

Benjolan di belakang telinga Fatih
Sudah sejak Jumat lalu pula, ada benjolan di telinga Fatih. Saya yang kepo langsung berselancar mencari jawaban dengan internet. Wah, yang saya temukan sungguh membuat was was.

Benjolan di belakang telinga bisa jadi karena pembuluh limfa yang membengkak. Ada yang karena infeksi di bagian dalam telinga. Bahkan yang lebih parah bisa jadi gejala meningitis atau kanker. Astaghfirullah.

Saya sungguh tak tenang. Terlebih karena sampai hari Minggu benjolan kecil itu tak kunjung hilang. Meski sebetulnya saya sempat berpikir Fatih baik baik saja karena tidak demam dan tetap aktif, tapi saya tak mau main main dengan kondisi anak. Harus bertanya pada ahlinya.

Akhirnya, di Minggu pagi, saat kuliah PPG libur, saya dan suami pergi ke bidan. Syukurlah ternyata bidan bilang itu masih normal. Bisa hilang timbul. Yang patut diwaspadai adalah jika benjolan lebih dari 3. Harus cek karena bisa jadi ada masalah dari paru-paru.

Aktivitas anak belajar dari rumah yang menurun
Pikiran lainnya yang hinggap di otak saya adalah terkait keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran daring yang kian hari kian berkurang saja.

Bukan tanpa alasan, saya rasakan malah sejak Minggu Minggu lalu. Grup kelas mulai sepi dari pertanyaan materi apa sekarang, ada tugas atau tidak, dsb.

Setelah bertanya ke beberapa guru, ternyata memang benar. Kian hari makin banyak saja yang tidak aktif. Saya sampai bertanya ke anak. Tapi ternyata teman-teman kelasnya masih banyak yang aktif di medsos. Ada juga yang bermain game.

Saya sudah berusaha untuk bervariasi dalam mengajar. Tapi tampaknya anak memang mulai jenuh belajar online. Tak hanya di pelajaran saya, pelajaran lain pun sama.

Apakah ada yang punya alternatif solusi?

Kamis, 03 September 2020

Berbagi di Kelas Menulis Omjay

Saya selalu terkesima saat satu demi satu pemateri dihadirkan oleh Omjay ke dalam grup menulis bersama Omjay dan PGRI. Bagaimana tidak? Pemateri-pemateri tersebut bagai intan permata yang kilaunya kemana-mana dengan prestasi yang melimpah. Saat itu, saya sempat membayangkan jika suatu hari nanti saya pun akan ikut mengisi sebagai pemateri. Ah, tapi itu mungkin hanya sekedar mimpi.

 

Betapa mulia hati Omjay yang telah menggagas grup menulis gratis ini. Ilmu tentang kepenulisan, penerbitan dan pemasaran buku, menjadi blogger dan youtuber, hingga menjadi guru berprestasi saya dapatkan di grup binaan Omjay yang kini telah mencapai angkatan ke-15.

 

Ba’da subuh, 23 Agustus 2020, 

Saya mendapat pesan chat dari Bu Prapti, salah satu guru saya dalam dunia kepenulisan :

“Neng, mo jd pemateri di Belajar Menulis Om Jay ya, sama Om Jay ditambahkan di gel 15 … Ibu masih di situ Neng.”

 

Rabu, 02 September 2020

Kisah Si Tukang Kayu

Sumber : pexels

Sore ini Ibu saya bercerita tentang seorang tukang kayu yang sempat mengontrak di lingkungan rukun tetangga kami. Katakanlah namanya Pak Kai. Pak Kai ini pada hari Senin sempat mendatangi ayah saya. Menawari kursi kayu yang dibuatnya.

Sudah 8 bulan ia menganggur. Tak dapat penghasilan. Jika pun ada yang membeli, hanya cukup untuk makan saja. Posisi kontrakan yang masuk ke dalam gang dan bukannya di pinggir jalan, juga membuat dagangannya menjadi lebih sepi pengunjung.

Ayah saya yang jiwa sosialnya sangat tinggi dan tidak tegaan, lantas memberi uang sebagai uang muka sebesar Rp 50.000. Uang yang asalnya akan digunakan membayar jasa tukang urut (ayah saya sedang sakit pinggang).