Halaman

Senin, 01 Februari 2021

Menulis di Blog Jadi Buku, Mengapa Tidak?

30.000. Itulah kira-kira jumlah buku yang terbit dalam setahun di negeri kita. Angka tersebut merupakan hasil riset IKAPI pada tahun 2015. Jumlah ini (sebagaimana dijelaskan dalam situs resminya, ikapi.org) tidak termasuk buku yang diterbitkan oleh individu (self publisher) atau organisasi nonpenerbit seperti instansi pemerintah, organisasi nonpemerintah, komunitas independen, partai politik, dan asosiasi profesi.


Apakah 30.000 judul buku sudah masuk kategori banyak? Hmm, mari kita cek. Berdasarkan data sensus BPS, pada tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia adalah 255,18 juta jiwa. Artinya, dari sekitar 8.500 penduduk, hanya 1 orang yang menerbitkan buku. Oh, no!

 

Tentu saja itu adalah gambaran kasar dari jumlah buku yang diterbitkan. Lima tahun sudah berlalu. Data tentu sudah berubah. Namun, meski hasil riset IKAPI hingga saat ini belum dimutakhirkan, gambaran tersebut setidaknya bisa menjadi bahan renungan bagi kita. "Mengapa saya tidak menulis buku?"

Kamis, 28 Januari 2021

Bersyukur Terdeteksi Covid-19

Sampai sebelum hasil swab PCR muncul, saya tidak tahu bahwa ternyata saya positif covid. Saya juga tidak tahu bahwa mata merah bisa termasuk indikasi terjangkit virus ini.

Sebelum melakukan swab PCR, saya dan beberapa anggota keluarga memang sempat mengalami mata merah. Namun, karena pada saat itu kami sedang membersihkan kamar, lemari, dsb, kami pikir mata merah tersebut karena debu saja. (Baca postingan Ternyata + Covid-19 untuk mengetahui gejala ringan hingga berat).

Fatih juga sempat diare. Tapi, saya pikir itu karena Fatih sedang tidak mau makan. Sehingga pupnya menjadi lebih encer. Sekarang, alhamdulillah mulai membaik dan Fatih sudah mau makan.

Di antara keluarga kami, kakak ipar yang lebih dulu terdeteksi gejala covid. Selain flu, kakak ipar juga sempat kehilangan kemampuan indera penciuman dan perasa. Tidak bisa mencium bau dan hanya merasa sedikit asin saja di lidah saat makan apa pun.

Kronologi selanjutnya sudah terbayang bukan? Kakak ipar melakukan rapid tes antigen. Karena hasilnya positif, maka kami sekeluarga pun harus melakukan PCR (baca kisahnya di sini)

Selama menunggu hasil swab PCR, saya, suami, Fatih (anak saya yang baru mau 14 bulan) dan Bapak tidak menunjukkan gejala lebih lanjut. Ya, seperti orang sehat saja. Nenek dan mamah meriang. Kakak juga sama. Kakak ipar alhamdulillah indera penciumannya mulai berfungsi kembali.
Mungkin karena kondisi tersebut, Bapak jadi sedikit kaget ketika mengetahui hasil swab. Dari seluruh anggota keluarga yang tes PCR, ternyata hanya nenek dan mamah saja yang hasilnya negatif. Innalillahi.

Kini, kami tetap terapkan pola hidup sehat dan jaga jarak. Disiplin isolasi mandiri diperketat sejak keluarnya hasil swab.

Meski kami jadi terbatas dalam ruang gerak, tapi kami tetap bersyukur sudah terdeteksi positif. Karena keluarga kami termasuk yang harus berinteraksi dengan banyak orang dalam kondisi normal.

Kedua orang tua, saya dan suami berprofesi sebagai guru. Meski masih belajar dari rumah, namun kedua orang tua yang sudah PNS setiap hari ke sekolah. Tentu mereka akan bertemu dengan guru yang sudah dijadwalkan masuk sambil melakukan PJJ.

Saya dan suami yang masih guru honorer, pergi ke sekolah hanya sesuai dengan jadwal memberikan materi PJJ (tidak setiap hari). Penjadwalan ini dilakukan untuk mencegah kerumunan.

Sementara itu, kakak ipar baru menjadi CPNS penyuluh pertanian. Dalam kondisi normal, tentu setiap hari kerja harus pergi ke kantor bahkan mungkin sudah mengunjungi para petani.

Sementara kakak meneruskan usaha nenek mengurus toko pancing dan aquarium. Tentu setiap hari harus berhadapan dengan pembeli. 

Bayangkan jika kami tidak melakukan tes PCR dan melakukan aktivitas seperti biasa. Mungkin kami akan lebih banyak menularkan kepada yang lain (karena tidak tahu bahwa kami positif covid). Terutama jika orang yang kontak dengan kami dalam kondisi kurang vit. 

Maka, betul apa yang dikatakan "bisa jadi musibah yang kami alami saat ini untuk mencegah musibah yang lebih besar".

Dengan mengetahui bahwa kami positif covid, kami bisa mencegah orang lain agar tidak tertular.

Ya Allah, Ya Rabb ... 
Terima kasih.

#selaluadahikmah

Selasa, 26 Januari 2021

Ternyata + Covid-19

Ba'da Subuh, Bapak dan Mamah sudah masuk ke dalam rumah (selama isolasi mandiri, mereka tinggal di toko yang letaknya di depan rumah nenek). Mamah mengingatkan saya untuk memakai masker dan Bapak meminta kami untuk tetap tenang.

Dengan menahan tangis, mereka menyampaikan hasil swab PCR yang kami lakukan sebelumnya (22/01/2021). Dari seluruh keluarga yang tes, ternyata hanya mamah dan nenek yang negatif. Sementara sisanya positif.

Senin, 25 Januari 2021

Menjadi Narasumber di WAG 17 Pelatihan Belajar Menulis

3 Januari 2021, saya diminta Omjay untuk kembali menjadi pemateri di WAG Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 17. Saat itu, saya menyatakan siap. 

Omjay lalu mengirimkan sebuah link berisi deretan nama yang direncanakan akan menjadi narasumber hingga 3 bulan kedepan. Alhamdulillah saya kebagian hari Jumat tanggal 22 Januari 2021. Masih ada waktu untuk menyiapkan materi.

Hari-hari berikutnya saya lalui dengan memikirkan tema apa yang akan saya angkat. Saya simak beberapa materi dari narasumber yang tampil sebelum saya. Wah, keren-keren.

Sabtu, 23 Januari 2021

Ice Breaker Penyemangat Belajar

Malam ini (23/01/2021) saya mengikuti obrolan santai Omjay bersama Kak Kusumo. Kegiatan yang dilakukan melalui zoom ini dimulai sejak pukul 19.00 WIB. Namun, saya baru sempat mengikuti sejak pukul 20.00 WIB.

Ketika saya masuk, Kak Kusumo sedang mempraktikkan salah satu ice breaker yang bisa dilakukan. Saat menyapa dikatakan "halo", minta anak untuk menunjuk otak lalu katakan "fokus".

Kamis, 21 Januari 2021

Akhirnya Swab PCR Covid-19 Juga

Awal mula ...
Beberapa hari belakangan ini, kakak ipar yang tinggal serumah mengalami gejala flu. Tapi, yang membuat kami (keluarga) sedikit cemas adalah flu tersebut disertai hilangnya kemampuan indra penciuman (anosmia) dan perasa (kakak ipar saya mengaku hanya bisa merasakan asin di lidah saat makan).

Beberapa orang yang mengalami flu berat juga bisa mengalami anosmia. Namun, pada penderita covid-19 anosmia bisa terjadi tanpa gejala hidung meler. Ya ... SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19 memang bisa menyerang saraf yang berhubungan dengan indra penciuman. 

Selasa, 19 Januari 2021

Bermain Mahkota

Sejak kemarin sore, bagian kepala dan kaki Fatih terasa lebih hangat. Tapi di bagian tangan, suhunya masih biasa saja. Saya ukur dengan termometer pun, suhunya masih terbilang normal. 

Yah, tercatat 35,8°C sih. Sempat berpikir apakah termometernya rusak karena pernah terbanting? Lalu saya coba ke diri saya sendiri hasilnya 35,5°C. Karena tidak jauh berbeda, saya asumsikan masih normal (bukankah seharusnya normal di kisaran 36,6?). Hmm ... mungkin saya butuh termometer baru.