Halaman

Senin, 07 Juni 2021

Ketika Lelah Mencapai Titik Jenuh

Melarutkan gula (source : Chanel YouTube Boss Awe) 

Dalam kimia, jika berbicara tentang titik jenuh pada suhu tertentu, maka itu adalah kondisi dimana zat terlarut berada di titik kesetimbangan dengan larutannya. 

Pada larutan jenuh, zat terlarut sudah berada pada jumlah maksimal yang mampu ditampung untuk dapat larut. Sedikiiiit saja ditambah lagi zat terlarut, maka zat tersebut akan tampak. Tak larut lagi.

Bayangkan Anda sedang membuat teh manis hangat. Saat Anda menambahkan satu sendok teh gula, mungkin gula masih dapat larut sempurna. Itu merupakan contoh larutan tak jenuh (belum jenuh).

Jika Anda terus menerus menambahkan gula, pada suatu saat, larutan tersebut akan mencapai jumlah maksimum gula yang dapat larut (titik jenuh). Maka, jika Anda tambahkan sedikit saja gula (walau sebutir), butiran gula itu tak akan larut lagi (lewat jenuh).

Begitu pula kehidupan. Kepahitan, kegagalan, sedih, amarah, lelah, dsb. Bisa jadi merupakan zat-zat yang dapat larut (zat terlarut) dalam kehidupan kita. Bila kita tak pandai mengelola, bisa jadi suatu saat akan mencapai titik jenuhnya.

Jika hal tersebut masih dibiarkan ... tinggal menunggu waktu saja ketika penambahan sedikit zat terlarut kehidupan menyebabkan segala amarah, kesal, letih kita menjadi "tampak" bahkan di mata orang lain. Tak lagi tersembunyi. Tak lagi larut dalam diri.

Temukan Celah dalam Toren Hidupmu

Ada masuk, ada keluar. Ibarat sebuah toren (penampung air). Ada pipa untuk mengalirkan air masuk. Ada juga pipa untuk mengalirkan air keluar toren.

Celah masuk dan keluar ini, dalam hal mengatasi titik jenuh, harus kita sadari. Mengapa harus kita yang sadar? Karena kita sendirilah yang sesungguhnya mampu mengukur sudah berapa banyak yang masuk, dan berapa yang harus dikeluarkan.

Seorang lelaki jika memiliki masalah umumnya akan memilih melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Mereka membuat celah keluar agar beban masalah tak menumpuk dalam batinnya.

Hobi memang menjadi salah satu cara ampuh untuk mengeluarkan energi negatif dalam tubuh kita. Mengubahnya (ingat Hukum Kekekalan Energi, bahwa energi tak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat diubah bentuk) menjadi energi positif.

Terkait perubahan bentuk energi negatif menjadi positif, menulis bisa menjadi salah satu alternatif. Dengan menulis, kita bisa mengeksplorasi perasaan kita, menelaahnya, mengungkapkannya, sehingga disadari atau tidak kegiatan menulis akan "menyembuhkan" kita.

Tak percaya? Cobalah untuk menulis segala kegundahan hati Anda saat ini. Insya Allah setelahnya Anda akan merasa jauh lebih tenang.

Yuk, self healing teraphy dengan rajin menulis. Semoga dengan semakin sering menulis, kepribadian kita pun akan semakin baik.

Sudahkah Anda menulis hari ini?

#semoga bermanfaat

27 komentar:

  1. Menulis dapat menjadi "celah toren" bagi kehidupan kita, ya. Setuju!

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Betul Omjay, jika semua ditujukan padaNya, insya Allah setiap lelah akan menjadi lillah.

      Hapus
  3. Luar biasa,Bu Ditta. Betul sekali menulis dapat menumpahkan segala gundah hati. Buku diary biasanya menjadi sahabat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ambu. Hehe dulu biasanya punya buku diary. Sekarang, diarynya beralih ke blog 😁

      Hapus
  4. Masya Allah...sangat menginspirasi. Thanks ya..

    BalasHapus
  5. Mantab betul Bu Dita sejenuh apapun ungkapan dalam tulisan. Mampir ke blog cakininblogspot.com

    BalasHapus
  6. self healing teraphy dengan rajin menulis
    menjada titik kesetimbangan..mantap Bu

    BalasHapus
  7. Cakep dah. Berarti lelah itu jenuh ya dan kejenuhan itu melelahkankan. Klo sudah lelah akibat jenuh akhirnya jadi jemu. Jadi ingat lagu Koesplus "Jemu". Nah setuju sekali menghilangkan jenu dengan menulis.
    Mantabs bucan. Lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Mam ... Hihi sepertinya sesekali Ditta harus mendengar lagu Jemu-nya Koesplus 😁

      Hapus
  8. Menulis.jadi salah satu solusinya dari sekian masalah yang ada. Ini baru penyemangat lagi untuk penulis. Saya baru ikuti Webinar perpusnas intinya kita ini negara kekurangan bacaan. Sudah saatnya Indonesia Menulis ...itulah yang akan dicanangkan duta baca 2021 Gol Agong Juli nanti. Inilah salah satu celah yang tidak habisnya yiatu profesi menulis.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat 👍🏻 saya juga tadi ikut webinar, hanya tidak tuntas karena ada urusan lain 😁

      Hapus
  9. Hebat Bu Ditta...
    Ayooo rajin menulis, agar lelah menjadi lillah...
    Sehat selalu Bu Ditta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, aamiin. Terima kasih Pak Indra. Semoga sehat selalu juga.

      Hapus
  10. Betul menulis bisa menjadi self healing therapy. Terutama untuk hal-hal yang kadang sulit disampaikan langsung. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bu. Saat lisan tak mampu berucap, tangan masih bisa menulis apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. 😊

      Hapus
  11. Setuju bu Dita keluar sgl energi negatif dengan hal positif salah satunya denfan menulis...

    BalasHapus
  12. Ibarat gula, makin banyak ditambahkan, akan makin jenuh. Itu yang jenuh gulanya atau orang yang menambahkan gula ya?

    Tapi memang gula tidak perlu banyak ditambahkan. Apalagi jika yang menambahkan sudah manis memang.

    Seperti menulis, kalau penulisnya memang namanya manis, maka tulisannya akan tetap manis dan bermanfaat. Semoga terus begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dalam konsep kimia, ya 'larutannya' Pak Rizky.

      Hapus
  13. Setelah ikut pelatihan belajar menulis, setiap momen saya jadikan bahan tulisan. Segala unek- unek saya dituangkan dalam menulis. Cukup ampuh menghilangkan setiap permasalahan.

    BalasHapus