Halaman

Jumat, 12 Februari 2021

Just Flashback : Rekam Jejak Menulisku

Sejak kecil, saya selalu suka dengan cerita fiksi. Dongeng Si Kancil, Timun Mas, Dayang Sumbi, serta cerita-cerita lain pun saya suka. Membaca buku cerita atau majalah anak telah menjadi hobi saya sejak saya bisa membaca.

Sekitar usia 5 SD, saya mulai mengenal buku diary. Lucu-lucu. Covernya juga menarik. Ada yang kartun atau pun barbie. Lalu, saya pun mulai menuliskan kisah hidup saya sehari-hari. Haha. Dengan bahasa anak SD tentunya.

Masuk usia SMP (2002-2005), saya mulai senang menulis cerita. Saya bahkan pernah menulis cerita di buku tulis, kemudian buku itu saya pinjamkan ke teman-teman. Hihi ... Alhamdulillah mereka (teman-teman saya) suka. Di usia ini, saya juga sudah membaca buku-buku seperti 5 Sekawan dan seri Harry Potter. Saya juga masih senang membaca atau membeli komik Detektif Conan.

Born to be a Genius karya Adi W. Gunawan adalah buku non-fiksi yang paling saya sukai kala itu. Dari buku tersebut, saya mengenal berbagai tipe kepribadian seperti koleris, melankolis, plagmatis dan sanguinis. Serta berbagai macam kecerdasan. Menyadarkan saya bahwa setiap orang itu unik. Tidak bisa dibandingkan satu dan yang lain. Hanya bisa dibandingkan dengan dirinya sendiri. Membuat saya sungguh ingin menjadi seorang psikolog.

Salah satu hal yang tak kan terlupa di masa SMP adalah ketika Mrs. Karlis, guru Bahasa Inggris saya meminta saya menulis dalam bahasa Inggris. So, rutinlah saya menulis diary berbahasa Inggris sejak saat itu. Kemudian sekali waktu, buku tersebut saya tunjukkan ke Mrs. Karlis untuk ditanggapi (terkait vocab, tenses dsb).

Di usia SMA (2005-2008), saya masih menulis diary. Lebih puitis dan melankolis sepertinya. Haha, maklum usia remaja. Teman saya malah sempat berujar bahwa buku diary saya sudah seperti teenlit. Ya, saat itu memang saya juga sudah gemar membaca novel-novel remaja. Sepertinya hal itu yang sedikit banyak mempengaruhi gaya menulis saya. Hehe. Di masa ini, saya masih rutin meminjam berbagai buku karangan Agatha Christie ke perpustakaan sekolah. Hunting judul yang tak saya temukan di toko buku.

Sumber gambar : media.com

Memasuki masa-masa sebagai mahasiswa (2008-2012), saya sudah mengenal dunia blog dan media sosial lain. Di Facebook saya bahkan pernah membuat grup khusus kemudian rutin menulis tentang cinta. Eits, bukan cinta-cintaan biasa. Namun cinta yang lebih luas. Bukankah Sang Pencipta pun adalah Dzat Yang Penuh Cinta?

Ketika menjadi beasiswawan Djarum (2010-2011), saya mendapat domain khusus blog beswan. Jadi, saya sempat pindah blog. Segala aktivitas atau hasil pemikiran saya tuangkan dalam blog tersebut. Mengikuti berbagai lomba, saya juga sudah belajar membuat karya tulis. Tapi yang jelas, lebih banyak menulis proposal atau laporan pertanggungjawaban dalam organisasi serta jurnal praktikum. Hihihi.

Lulus kuliah (2012), saya langsung mengajar di salah satu boarding school yang ada di Kabupaten Subang. Setelah diangkat menjadi koordinator santri putri, kegiatan saya semakin banyak di dalam pondok. Kegiatan menulis berubah jadi laporan bulanan kepada Mudirul Ma'had (ketua pondok/yayasan).

Tahun 2015 saya memutuskan untuk menikah. Di tahun ini pula saya bersama suami pindah mengajar ke sekolah negeri sebagai guru honorer. Mulai terlibat aktif di berbagai kegiatan sekolah maupun luar sekolah. Ikut menggeliatkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan menghidupkan kembali perpustakaan sekolah yang sempat mati suri.

2017, saya mulai menulis di platform Wattpad. Menghasilkan sebuah novel dan satu short story. Selain itu pada perkembangannya saya juga pernah menulis cerpen di platform Storial.

Di tahun 2019, melalui kegiatan MGMP IPA Kabupaten Subang, saya ikut menyumbang tulisan dalam buku antologi pertama. Wah, rasanya senang sekali. Menulis best practice tentang literasi sekolah, kemudian ikut dibukukan bersama karya teman-teman lainnya. Mimpi saya untuk membuat buku terwujud!

Sejak itu, bagai ikut mengalir, saya pun terus menghasilkan karya dalam bentuk buku. 2 buku karya bersama lahir di penghujung 2019. 1 buku solo lahir di bulan April 2020. 6 buku karya bersama di sepanjang tahun 2020. Dan alhamdulillah hingga Februari 2021, sudah ada 3 buku karya bersama. Total hingga tulisan ini dibuat, saya sudah memiliki 1 buku digital, 1 buku solo dan 11 buku karya bersama. Alhamdulillah.

Semoga kita semua bisa terus berkarya dan menulis. Aamiin.

Berikut saya lampirkan salah satu pentigraf (cerpen tiga paragraf) yang dicetak dalam buku bersama KPPJB Regional Subang berjudul Dendang Asa Dalam Untaian Kata.


DESA SILUMAN

Oleh : Ditta Widya Utami


Aku tak tahu mengapa si Badrun sangat benci padaku. Di pabrik, ia selalu mengata-ngataiku sebagai siluman jadi-jadian. Apalagi jika bukan karena nama desaku itu, Desa Siluman. Huh, padahal tak pernah sekali pun ia datang ke desaku. Berani-beraninya ia mengatakan desaku cuma bualan semata. "Mana ada yang namanya Desa Siluman! Kecuali warganya para siluman!" Begitu katanya di kantin suatu hari. Ia menyeringai padaku lantas tertawa.


Sudah tiga bulan aku bekerja di rumah. Pandemi corona membuat sebagian karyawan pabrik diberhentikan. Aku sendiri heran kenapa bisa kena PHK. Padahal aku termasuk orang yang rajin dan giat bekerja. Apa mungkin si Badrun bikin ulah? Ia kan paling tidak suka jika aku mendapat bonus dari perusahaan. Ah, tapi aku tak boleh berprasangka buruk. Ia kan hanya manusia biasa.


Sejak terkena PHK, sesekali aku pergi ke sawah. Sawahku bersebelahan dengan makam desa yang luas. Jangankan malam hari, siang pun orang tak berani lewat jika hanya sendiri. Aku menyusut peluh. Rasanya matahari sudah sejengkal di atas kepala. Kulihat sebuah mobil parkir di depan gerbang makam. Sudah sejak pagi mobil itu berada di sana. Dua petani berjalan ke arahku. Wajah mereka menandakan sesuatu. Pasti kejadian ganjil itu lagi. Kucoba dekati makam. Di sana, Badrun terus saja berputar-putar mengelilingi kawasan makam. Sesekali ia berhenti lalu bertanya sendiri, "Maaf, Pak, Desa Siluman itu ke arah mana, ya?".


Cipeundeuy, 26062020, 17:15

Noted : cerita ini hanya fiktif belaka. Namun didasarkan pada mitos Desa Siluman Kabupaten Subang. Desa Siluman sudah terkenal bahkan sejak zaman penjajahan. Dikatakan demikian karena konon, jika ada yang berani macam-macam dengan warga desa, orang tersebut tak akan pernah bisa menemukan Desa Siluman ini (pasti akan tersesat atau berputar balik).



Ditta Widya Utami, S.Pd.

NPA. 10162000676

7 komentar:

  1. Subhanalloh.. bunda Ditta kereen.. buku yg di baca sy juga suka.. ada lg tintin dg 2 detektif kocak..cergam selain detektif conan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Bu 😊 oh iya, Tintin juga lumayan suka. Tapi lebih sering nonton filmnya kalau Tintin. Hee

      Hapus
  2. Kalaubsaya suka baca asterix dan obelix hehehe

    BalasHapus
  3. Mirip dengan cerita saya, Bu. Tapi saya sukanya menulis karena guru bahasa Indonesia, hehehe. Waktu SD malah nulis di kertas folio. Lalu ada juga buku yg sy buat seperti cerita nightmare gt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh samaan. Hee ... Sepertinya seru nih cerita nightmarenya 😉👍🏻

      Hapus
  4. Kaya ini tulisan siluman durung rampung sebagian gilang hhhh

    BalasHapus