Halaman

Kamis, 10 Juni 2021

Satu Cup Kopi @janjijiwa

Sebetulnya saya bukan penikmat kopi. Sesekali saja saya menikmati kopi. Jika bukan kopi herbal, ya saya konsumsi kopi yang umum dijumpai di pasaran. Capcin (cappucino cincau) misalnya yang sempat populer beberapa tahun silam.

"Terima kasih sudah melakukan yang terbaik setiap hari. Kamu hebat!" (Quote motivasi @janjijiwa - dokpri)

Saya terkadang heran terhadap suami atau teman yang jika disuguhi kopi akan meminumnya sedikit demi sedikit. Menyeruput sambil menikmati setiap tegukan kopinya (mungkin bisa Anda tulis alasannya di kolom komentar? Hehe). Tak jarang, kopi yang asalnya panas menjadi dingin karena tegukan-tegukan kecil itu.

Kalau saya sih, ya langsung menghabiskan satu gelas. Hehe. Bukan dalam kondisi panas tentunya. Karena saya tipikal orang yang tak kuat dengan makanan atau minuman panas.

Jika membuat atau membeli kopi panas, biasanya akan saya diamkan hingga hangat. Baru kemudian saya habiskan. Tapi jika diberi satu cup besar, apalagi ice coffee, ya tidak dihabiskan sekaligus juga. Seperti hari ini ketika saya diberi satu cup kopi @janjijiwa oleh kakak (thank you, bro!). 

Walau tak dihabiskan langsung. Tapi tetap saya minum dengan segera. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hehe ... karena jika didiamkan, es dalam cup tersebut akan mencair. Dan itu akan mengubah rasa kopi, toh?

Profil Instagram @kopijanjijiwa

Bagi Anda penikmat kopi, mendengar Kopi Janji Jiwa mungkin sudah tak asing lagi. Tengok saja laman instagramnya. Di bagian profil tertera "Top Brand Award Coffee Cafe 2020 & 2021" serta "MURI - Pertumbuhan Kedai Kopi Tercepat dalam Setahun"

Setau saya sih, waralaba kopi yang satu ini memang mampu membuka hingga lebih dari 300 gerai dalam satu tahun pertamanya. Wew keren, ya?

Nah ... balik lagi ke masalah kopi. Bagi penikmat kopi sejati, bisa jadi mereka mampu membedakan berbagai jenis kopi. Dalam sekali teguk misalnya, mungkin mereka akan tahu apakah kopi yang digunakan berjenis robusta atau arabika. 

Lah, kalau saya sih semua kopi berasa sama di lidah. Hehe 😁 Moccacino dan Cappucino saja masih terasa sama. Padahal, komposisi keduanya jelas berbeda. Ada tambahan cokelat di moccacino, sementara cappucino hanya berbahan dasar susu dan kopi hitam.

Berbicara komposisi, saya jadi teringat sebuah mesin kopi di salah satu toko yang pernah saya kunjungi. Ada berbagai varian kopi yang tertera di menu mesin. 

Ketika kita memilih menu, maka mesin secara otomatis akan menyeduhkan kopi dengan persentase bahan yang tertera. Misal berapa persen kopi, susu dan cokelat yang digunakan untuk menu tersebut. Tinggal menunggu beberapa saat, maka secangkir kopi panas pun siap dinikmati.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk orang yang bahkan rela menggelontorkan uang hingga ratusan ribu rupiah demi secangkir kopi luwak misalnya? Atau termasuk yang setiap hari meminum kopi? Atau sama dengan saya, hanya sesekali saja menikmati kopi 😁😁😁

Yuk ngopi ☕

32 komentar:

  1. Hidup tanpa kopi serasa sayur tanpa garam 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Bu Ketu pasti minum kopi tiap hari, nih 😁😁😁

      Hapus
  2. Balasan
    1. Ehehe, pecinta kopi hitam nih sepertinya 😊 terima kasih atas kunjungannya ... 🙏🏻

      Hapus
  3. Balasan
    1. 😄👍🏻👍🏻👍🏻 apalagi jika menikmatinya di pagi/sore hari dengan goreng pisang ya Bu. Hehe ...

      Hapus
  4. Ayo berjanji, ayo minim kopi. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah hari ini sudah, Pak. Hehe ... Besok besok bole lah secangkir lagi 😁

      Hapus
  5. Kopi walau pun bukan penikmat kopi, tapi sebenarnya bisa dirasakan perbedaan rasa antara yang asli alias murni dengan campuran. Sangat jauh, jika dilihat dari ampasnya. Jika pergi ke Pulau Lombok maka minum kopi ibarat menu harian yang bisa dicicipi setiap habis makan, atau jika kumpul bersama teman. Yang jelas disana bubuknya biji kopinya asli tanpa campuran , Ketika saya kembali ke Jawa maka untuk pengingat kopi Lombok saya selalu minum kopi merek #k......memang nikmat jika diminum agak panas setekah makan siang. Salam literasi Bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ... Jadi penasaran ingin melihat ampas kopi asli. Hehe, mungkin suatu saat harus terbang ke Lombok ya 😁😁😁 #inginnya

      Salam Literasi juga, Pak Har.

      Hapus
  6. Gula merusak rasa kopi. Minumlah kopi tanpa gula agar terasa kopinya

    BalasHapus
  7. Kopi mana tu bu Ditta? Kopi jawa apa kopi sumayra? 😄😄👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe, sepertinya saya belum coba kopi Sumatera 😁

      Hapus
  8. Ide tulisannya keren, Bu Dita. Ambu penggemar berat kopi hitam.

    BalasHapus
  9. Wah jadi mau nyeruput kopi nih. Saya bukan peminum copy tapi bisa meracik kopi khususnya kopi Aceh. Nah kopi terenak didunia ya kopi Aceh. Waktu thn 80an pernh jd exporter, prnh mengexpor kopi jd srg bolak balik ke Sumatra. Saya jd tahu kualitas kopi dari Aromanya. krn hrs jd tester dulu sblm dijual. Kopi Indonesia itu rasanya wow bngt. Yg aneh knp diksh nama arabica sama robusta pdhl diarab ga ada kbn kopinya. Padamulanya slrh kopi didunia berasal dari biji kopi di Indinesia. Perbedaan robusta sama Arabika dari proses pengeringannya. klo arabica tngkt keringnya lbu kering jd klo digiling lbh berminyak dan ini rasanya enaaaaaak bingitz. Diseduh orinal plus gula aja udah bikin lupa sekelilingnya saking enknya. Dan harumnya itu menyeruak hingga keluar ruangan. Klo robusta tdk terlalu kering pd proses pengeringannya dan bijinya lbh bulat klo arabica agk lonjong. Robusta lbh berat kafeinnya krn kdr air pd bijinya msh 12%. varian kopi siap jadi dngn komposisi lbh bnyk campurannya biasanya yg digunakan robusta untuk menaklukan kafeinnya. Krn klo kafeinnya ga ditaklukan itu membhykan bagi penderita jntg, diabetes, pankreas, paru dan ginjal. Klo arabica bisa dmnm murni bhkn dicamil krn ringan kafein. Arabica lbh mhl harganya. Janji jiwa mantabz bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaah ... Bu Yenny ini master di segala bidang nih. Posting ini itu, selalu tau lebih dalam. Mantap Bun 😊👍🏻👍🏻👍🏻

      Terima masih ilmunya 🥰🥰🥰

      Hapus
    2. Wah jadi tambah ilmu, gara2 tulisan Neng Ditta...walau ibu bukan pecinta kopi. Kata temen pecinta kopi tanpa gula itu yg bisa jadi obat yaa?..

      Hapus
  10. Saya minum kopi kalau mah ngerjain tugas saja. Biasanya konsentrasi lebih pool. Selebihnya ngopi bareng sama teman. Satu gelas bersama itu lebih nikmat. Hehe...
    Oia, orang Jagoan Banten atau penduduk dikampung saya lebih suka minum kopi yang dituang ke dalam piring kecil itu tuh..trua diseruput. Mantap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia kang apalagi nyeruputna diharepan hau nya jeung beuleum dangdeur tea atawa beuleum uli sarungan wkkk

      Hapus
    2. Waduh, satu gelas bersama??? Hehehe ... Oh iya ya, selain variasi rasa ada juga berbagai teknik penyajian kopi. Ada yang di pisin (piring kecil), ada juga yang ditambah bara api ya. Hehehe

      Hapus
  11. Kopi, sunrise dan sunset tak bisa terpisahkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, betul, betul. Paling nikmat menemani pagi dan sore hari. Kalau siang lebih mantap ice coffee yaa 😁

      Hapus
  12. Saya membaca saja Bu Ditta, minumnya teh hangat saja...
    HEhehehe
    Sehat Selalu Bu Ditta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, teh hangat saya pun bukan penikmat. Kecuali teh hangat manis. 😁😁😁

      Hapus
  13. Bu Ditta mungkin belum pernah makan nasi sambil minun kop. Satu suap nasi, satu sendok kopi. Nikmat rasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ini unik lagi. Betul Bu Farida, saya belum pernah. Kalau sesendok kuah bakso sesendok teh, saya pernah. Hihi.

      Nah, teman saya satu sendok nasi satu sendok semangka 😄

      Terima kasih sudah berbagi pengalamannya Bu 😊🙏🏻

      Hapus
  14. Saya orang kapung, yang ngopi sejak masih SD. Selesai sarapan, mama' menyiapkan segelas kopi berbagi minum dengan Susanti, adik saya. Santi tidak akaj minum sebelum saya meminumnya separuh. Kopi buatan Mamak, meskipun hanya kopi campur beras yang disangrai terasa sangat nikmat. Sampai sekarang masih minum kopi hitam, dengan atau tanpa gula. Apalagi sekarang tinggal di daerah penghasil kopi. Kopi asli, tidak paham jenisnya apa, diseduh dengan air panas tanpa gula atau dengan gula bahkan dengan sebiji duren masak nan lunak sangat sedap. Lebih nikamt jika seseruput demi seseruput hingga ampas kopi terakhir meskipun air kopi makin mendingin. Salam kopi, mo lagi mo lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau buatan mamak, apa pun jadi lebih nikmat ya Pak D. Kopi dan beras sangrai, apalagi kopi dan durian ... saya baru tahu. Hihi, sebetulnya penasaran juga menyeduh kopi racikan sendiri. Tapi tak berani dengan rasa pahitnya 😄

      Lebih suka yang manis manis soalnya. Hehe ... Terima kasih Pak D sharingnya 😊👍🏻

      Hapus
  15. Salam penikmat kopi! Kopi item bikinan nyonyah tapinya kalau saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 👍🏻👍🏻👍🏻 suami sayang istri nih, mau minum buatan nyonyah. Mantap.

      Hapus