Halaman

Senin, 14 Juni 2021

Pemburu Kelinci

5 Juni 2021, suami saya membeli 2 ekor kelinci mungil. Satu ekor berwarna putih dengan mata merah, satu lagi berwarna coklat.

Fatih saat melihat kelinci putih dan coklat 

Ia membeli 2 kelinci tersebut agar kelinci besar milik kami memiliki teman. Sebelumnya seorang teman memberikan seekor kelinci besar yang sudah tua. Tak ada yang merawat, katanya.

Di tempat kami tinggal, suami saya sudah memelihara ayam. Karena sering mengais tanah, maka hampir tak ada rumput yang tumbuh di halaman samping rumah. Oleh karena itu, kelinci besar kami titip di rumah mamah.

Fatih dan Dua Kelinci

Dua kelinci mungil pun akhirnya dibawa ke halaman belakang rumah mamah (nenek Fatih). Wah, kelinci putihnya lincah sekali. Ia bahkan senang makan. Mulutnya seolah tak pernah berhenti mengunyah. Hehe ...

Tapi ...

Baru satu malam, kelinci putih hilang! Tanpa jejak. Mamah merasa bersalah sekali karena tak sempat mengurungnya dengan kurungan ayam. Saat itu memang belum ada kandang kelinci. Dicari kemana pun, tak tampak batang hidungnya.

Mungkinkah kelinci putih lompat pagar besi yang memang bercelah? Toh saat disimpan di dus saja, ia bisa melompat keluar. Berkeliaran di dalam rumah. Atau jangan-jangan ia dimakan kucing? Entahlah.

Karena kejadian itu, Abah Fatih akhirnya membelikan kandang kelinci. Nenek Fatih bersikeras meminta suami saya untuk membeli kelinci lagi. Biar lebih tenang, katanya. 

Maka suami saya pun kembali membeli dua kelinci mungil. Satu ekor berwarna putih dengan lingkar mata hitam. Seekor lagi bercorak putih hitam seperti panda.

Kelinci coklat yang ikut menghilang.

Sayang, kejadian serupa terjadi lagi. Di siang hari saat kelinci kecil dilepas dari kandang agar bisa makan rumput dan wortel, kelinci coklat (teman kelinci putih mata merah) hilang!

Wah, wah ... Ini sih ada pemburu kelinci. Hanya saja kami belum tahu apakah pelakunya kucing, ular, atau ...

Akhirnya Nenek Fatih memutuskan untuk membongkar tumpukan kayu di belakang rumah. Jika benar ular pelakunya, pastilah masih ada bersembunyi tak jauh.

Kucing kami tampaknya tak mungkin jadi tersangka, karena mereka merengek terus meminta jatah makan. Meski Momo (salah satu kucing kami) sempat 'penasaran' dengan kelinci, saya pikir ia tak kan sampai berburu kelinci. 

Ketika Momo penasaran dengan kelinci.

Momo tinggal bersama saya, sementara kelinci ada di rumah Nenek Fatih. Jarang sekali Momo keluar lingkungan rumah. Terlebih siang hari. Biasanya ia tidur dekat pohon atau merebahkan diri di teras. Ngadem.

Saya sendiri tak ikut perburuan. Saya bermain dengan Fatih. Jaga-jaga saja bila ternyata benar ular pelakunya.

Wah, tak disangka, ternyata seekor tikus hitam besar bersembunyi di bawah tumpukan kayu! Ia melesat memburu kelinci panda. Meski kelinci panda berhasil diselamatkan, tampaknya organ vital sudah terkena gigitan.

Kami pun harus merelakan kelinci panda pergi untuk selama-lamanya. Mungkin ia mati ketakutan. Atau sudah terpapar bakteri akibat gigitan tikus.

Di bawah tumpukan kayu, terdapat beberapa gundukan bulu putih. Tampaknya tikus tersebut memang si pemburu kelinci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar